Wanita Yang Hatiku Mencintainya

September 14, 2009 at 4:36 am (CERPEN)

6054_1072600262227_1442760474_30180783_196594_n
Mataku terbelalak menatap layar komputerku saat membuka salah satu situs jejaring pertemanan di internet. Aku tak menyangka bisa menatap wajah nya lagi setelah sekian tahun tak bertemu. Wajahnya masih teduh dan menyenangkan hati. Matanya masih bersinar dan bersih. Mata itu dulu telah meluluhlantakkan kesombonganku. Namun ada yang berubah, di sampingnya ada seorang pahlawan kecil, aku yakin malaikat kecil itu anak nya. Foto wanita itu menunjukkan bahwa dia sangat bahagia. Tubuhku lunglai seketika.

Aku tak pernah menyangka bisa melihatnya lagi, menatap senyumnya walaupun hanya dalam sebuah foto. Hatiku mulai gundah harus ku apakan akun wanita ini. Apakah aku harus meminta dia menjadi friends list ku?? Atau aku cukup menatapnya diam-diam dan menyimpan semua resahku dalam-dalam seperti seorang secret admirer mencari tahu segala hal tentangnya dengan diam-diam. Sungguh keberanianku musnah karena perpisahan kami dulu, aku takut wanita ini tak menggubrisku lagi.

Entah mengapa aku semakin ingin tahu bagaimana kabarnya wanita yang begitu menarik hatiku itu. Apalagi setelah melihat salah seorang sahabatku bernama Firman yang juga pernah sekampus dengannya dulu ada dalam friend list nya. Tentu Firman sudah banyak mengetahui perkembangan informasi tentang wanita itu. Tanpa malu aku berusaha mencari info sebanyak-banyaknya tentang dia lewat Firman. Rasa maluku telah hilang saat Firman mendapat kesempatan dengan sangat leluasa menertawakanku /“Sudahlah, seperti tidak ada wanita lain saja selain dia di matamu”/ Firman sungguh terlalu, bukannya membantuku malah memberiku ceramah panjang lebar.

/”Dia sudah menikah, sudah punya anak, dan tentu saja kau tak punya arti apa-apa lagi di hatinya”/ Kurenungkan baik-baik ceramah Firman yang sebenarnya sangat benar itu. Namun juga membuat hatiku jengkel. Sempat juga hatiku kecut, namun entah mengapa semangatku kembali berkobar-kobar ingin mengetahui kabarnya “hanya mengetahui” kabarnya tak melebihi itu. Mengapa seolah-olah dia begitu nyata di hadapanku.

/”Apa kau yakin ingin tahu kabarnya??”/ Firman mengerutkan keningnya saat menanyakan hal ini padaku, seolah-olah dia hanya ingin meyakinkan aku, apa tidak sebaiknya lupakan saja wanita itu, toh pada akhirnya kecewa yang didapat. Wanita itu tak akan memberikan tanggapan apapun, karena Firman tahu benar seperti apa sifat wanita yang hatiku menggilainya itu, dia wanita yang cerdas dan sangat punya prinsip dalam hidup.

Hatiku sempat getir memikirkan resiko yang harus kutanggung, tapi bagaimana mungkin aku bisa kalah lagi jika tak pernah mencobanya. Sekali lagi kupastikan hatiku bahwa aku hanya ingin mengetahui kabarnya, bahagiakah dia, atau paling tidak masihkah ia ingat padaku, laki-laki yang terlalu lemah di matanya.

————————-

Wanita itu bernama Riana. Lima tahun yang lalu dia pernah mengisi hari-hariku, pernah menjadi bagian penting dalam hidupku. Bersamanya adalah hal yang sangat sulit untuk dilupakan. Semakin aku mencoba melupakannya semakin kuat dia bercokol di bilik jantungku, memompa kuat semua darah ke otak dan ke sekujur tubuhku yang begitu kuat menyimpan semua memory tentangnya dan aku.

Rasanya hampir-hampir semua lagu cinta pernah mewakili kisah hatiku padanya. terkadang sedih, terkadang bahagia, terkadang marah, terkadang rindu. Sepertinya aku benar-benar seorang pencinta sejati. Namun yang sangat membuatku heran mengapa sampai saat ini aku belum juga mampu mencari penggantinya. Pernah teman-temanku berkelakar /”Hari gini masih jomblo?”/ sepertinya masih menunggu “Wanita yang hatimu mencintainya”/……..

Wajar saja sahabat-sahabatku heran dengan statusku yang masih tetap menjomblo di usia 30 tahunan dan di tengah-tengah mereka yang sudah merencanakan pernikahan bahkan menunggu kelahiran seorang anak. Bahkan sampai saat ini aku sendiri belum menemukan jawaban dari keheranan sahabat-sahabatku itu.

Riana berbeda kampus denganku, kami berkenalan lewat seorang adik kelasku di sebuah festival tari yang diselenggarakan oleh kampusku. Dia bukan seorang penari, bukan pula seorang pemusik. Kami hanya bertemu di festival tari tersebut dan dia salah satu pencinta tari daerah. Dia memberikan kartu namanya kepada temanku berharap bisa bekerjasama dalam pameran seni dalam rangka penggalangan dana sosial untuk anak-anak panti asuhan yang didampinginya.

Seperti biasa awal perkenalan kami tak ada yang special, bahkan dipenuhi pembicaraan tentang pendanaan dan kerja sosial yang sedang dia tekuni. Namun berawal dari situ pula aku bisa melihat betapa tulusnya hati seorang Riana. Betapa pintarnya dia di mataku, betapa banyaknya ide-ide cemerlang yang keluar dari pikirannya. Betapa dahsyatnya senyumannya yang mampu mengalahkan kesombonganku untuk tak mengatakan suka padanya.

Riana adalah wanita yang sempurna di mataku, kelebihannya mampu menutupi kekurangannya. Aku yakin semua orang akan memandangnya dengan kagum wanita dengan Brains with Beauty. Dia mengajariku bagaimana menjadi manusia yang selalu berfikir positif, dia mengajariku bagaimana memiliki kepintaran intrapersonal, dia mengajariku menggali kreatifitasku yang tertimbun selama ini. Dia sungguh membuatku tak mampu berpaling dalam 7 tahun terakhir ini.

Seminggu kuhabiskan waktu mengenang tentang Riana pasca melihat akunnya dalam deretan person-person di jejaring persahabatan. Setiap kali membuka situ itu, setiap kali itu pula aku selalu berusaha melakukan searching untuk sekedar melihat-lihat saja atau berharap dia mengajukan request pertemanan kepadaku. Ternyata aku terus mengharapkannya walaupun sesak dilanda cemas terkadang gelisah. Kahlil Gibran pernah mengatakan bahwa butuh seumur hidup untuk melupakan seseorang. Sekarang aku merasakannya, begitu sulit melepaskan bayangan Riana dari hati dan pikiranku bahkan menjelma seperti hantu yang terus datang dan menghantui hidupku.

Kami berpisah karena hal yang sangat klise, kami ditentang oleh semua keluarga, baik dari keluargaku maupun keluarganya. Alasannya terlalu banyak, saat itu aku pun tidak begitu memahami kondisi yang kami hadapi. Aku ingat kata-kata terakhir dari mulut Riana /“Aku tak akan mempertahankanmu, karena kau tak pernah menunjukkan keinginanmu untuk mempertahankanku”…/Riana berlalu dan setelah itu menghilang tanpa kabar. Aku yakin Riana pergi dengan penuh kelegaan di hati dan mulai mengejar cita-citanya. Hanya aku yang pontang panting menata hatiku kembali yang kacau balau sepeninggal Riana. Rasa penyesalan bercampur dengan rasa cintaku yang masih sangat mendalam untuknya membuatku hampir terpuruk dalam kehampaan.

Saat semua keluarga menolak hubungan kami, hanya Riana yang tetap tenang dan berusaha mempertahankan apapun yang kami miliki. Namun saat Riana pergi aku semakin mengakui ternyata aku memang bukan siapa-siapa. Aku bahkan tak mampu menghadapi keluarga besar Riana yang terpandang dan Religius, belum lagi berusaha mengejar ketinggalan karena Riana jauh lebih unggul dalam segala hal dibandingkan aku. Aku pasrah,..aku tak berani mempertahankan diri untuk tetap bersama Riana, karena aku takut dengan mempertahankanku malah membuat dia kecewa di kemudian hari.

Pada kenyataannya aku menyesal telah melepaskan seorang bidadari hanya karena aku tak mampu bersanding menjaganya di sisiku. Sungguh aku merasa tak berguna, aku kalah sebelum pertandingan itu dimulai. Aku hanyut sebelum arus yang lebih deras membawa kami ke hilir. aku sungguh tak berdaya….

Penyesalan itu kian menjadi ketika melihat Riana kembali, hidupnya pasti sudah sangat bahagia, aku menyesal seharusnya aku mempertahankannya semampuku, seharusnya aku tetap mendampinginya sesanggupku. Sekarang segala sesuatu menjadi kenangan indah antara aku dan Riana. Terngiang-ngiang di telingaku kata-kata yang menyentuh hatiku “life is like writing a pen, you can cross out your past but can not erase it” benar sekali bahwa hidup ini seperti kita sedang menulis dengan menggunakan pulpen, kita bisa membuat garis namun kita tak mampu menghapusnya. Begitu juga Riana telah begitu lekat kubiarkan terlukis di sudut hatiku, hingga tak sekalipun aku mampu untuk menghapusnya walaupun setitik.

Pernah beberapa kali ku coba mendekati wanita lain. Namun selalu tersendat dengan kriteria yang kubuat sendiri dalam pikiranku. Bahwa wanita itu harus seperti Riana, memiliki postur tubuh yang tinggi di atas 165 cm, memiliki kulit putih bersih, bentuk wajah yang melayu dan sedikit oriental. Bodohnya aku malahan kriteria wanita idaman seperti itu justru sangat menggangguku, setiap kali mencoba membina hubungan dengan seorang wanita, kembali aku akan membandingkan wanita itu dengan Riana. Akhirnya berulang kali aku gagal.

Riana yang low profile Namun mempunya spesifikasi yang tinggi, kecerdasan Riana, keingintahuan Riana yang selalu menggebu-gebu, pengetahuannya yang luas. Itu semua semakin sulit membuatku mencari penggantinya selama 7 tahun terakhir ini. Jangankan untuk mendapatkan calon istri yang akan aku ajak hidup bersamaku, mempunyai pacar yang bisa sekedar sharing pendapat saja rasanya membuatku kewalahan untuk mendapatkannya. Tapi akhirnya aku sadar bahwa dari kenyataan semua itu hatiku yang berperan menentukan untuk jatuh cinta lagi atau tidak.

——————–

Tiga bulan telah berlalu pasca melihat akun Riana di Situs jejaring pertemanan. Tidak ada perkembangan apapun. Riana tetap diam, tidak mengirim pesan, tidak melakukan request untuk pertemanan denganku, tidak pula ada suggest friend untukku. Aku harus melakukan sesuatu. Aku ingin menyampaikan apa yang aku rasakan untuknya selama ini. Aku harus melakukannya. Darahku naik dan mendidih di ubun-ubun saat rencana ini tercetus. Entahlah apa yang akan terjadi nanti Namun aku harus mencobanya.

/“assalamualaikum,..Riana, apa kabar??aku boleh add kamu kah??/kok hatiku masih berdebar saat melihat akun mu di situs ini ya.

Akhirnya kuberanikan diri untuk mengirim pesan di inbox Riana, sekarang tinggal menunggu hasilnya. Apapun hasilnya aku harus menerima dengan lapang dada, bukankah berani berbuat berarti berani menanggung resikonya. Mungkin akan sukses dengan hasil baik atau sebaliknya Riana hanya akan diam atau malah menghina-hina aku.

Tiga hari tiada balasan, menunggu dan menunggu tanpa kejelasan memang suatu hal yang menjemukan. Padahal Riana pernah bilang bahwa menunggu itu terkadang indah. Menunggu saat hasil panen tiba setelah bercocok tanam dan berusaha dengan keras, menunggu anak tumbuh besar dan cerdas setelah menstimulasinya dengan optimal, menunggu hari Akhir tiba setelah beribadah maksimal. Tidak semua hal menunggu itu membosankan dan tidak pula selalu menyenangkan. Namun menunggu seperti yang aku alami saat ini bukan hanya membosankan, tapi juga dihantui banyak prediksi-prediksi, dan aku yakin Riana juga pasti setuju bahwa menunggu yang aku alami sekarang adalah suatu hal yang paling mendebarkan.

Hari ini pekerjaan kantor serasa tiada akhirnya. Aku harus mengupdate kembali data-data keuangan yang sudah pernah di input karena ada beberapa perubahan jumlah dari atasanku. Beberapa pekerjaan Dewinta rekan sekantorku ditumpahkan sebagian kepadaku karena dia sedang cuti hamil dan melahirkan.

/” Makanya buruan nikah, biar kamu juga bisa cuti nikah paling engga kan dua minggu bisa bebaskan pikiran dari kerjaan”/ dewinta menertawakanku saat tugasnya dialihkan untukku.

Teman-teman sekantorku memang sering usil dengan status jomblo yang melekat bertahun-tahun padaku, tapi bagiku itu hanya bentuk dari keperdulian mereka padaku. Mereka masih menyempatkan diri untuk mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, hidup terus berlalu, mau tidak mau pernikahan sudah menjadi sebuah prioritas dalam hidupku yang sudah menjalani usia 30 tahun.

Hampir malam saat ku bisa sedikit bernafas lega, beberapa pekerjaan sudah selesai dengan baik. Sembari menikmati kopi hangat dan sepotong roti, masih di meja kerja kantor, aku terpaku melihat inboxku yang bertanda (1) berarti ada pesan dari seseorang. Tiba-tiba jantungku merangkak bergerak perlahan menjadi cepat. Nafasku terdengar jelas di telingaku. Kedua telapak tangan dan kakiku mulai terasa dingin. Mengapa tiba-tiba tubuhku menjadi meriang.

Seorang diri aku terpana melihat sender pengirim pesan di inboxku, namanya tertulis jelas ”Riana” dan dibelakang namanya ada embel-embel nama keluarga suaminya. Entah mengapa aku tak ingin buru-buru membuka apa isinya, kepalaku mulai membuat pertanyaan-pertanyaan dan berbagai kemungkinan apa isi email tersebut.

Dear Aries,…

Beberapa minggu yang lalu, tiba-tiba firman menjadi sering contact denganku. Entah atas dasar apa dia bercerita panjang lebar tentang dirimu. Kondisimu, pekerjaanmu bahkan dengan siapa saja kau pernah dekat. Tentu Firman punya alasan tersendiri mengapa harus menyampaikan sesuatu hal yang sangat pribadi tentangmu. Aku khawatir mungkin kamu kurang berkenan jika Firman terkadang suka berlebihan menceritakanmu.

Aku sedikit sibuk akhir-akhir ini, jadi emailmu baru sempat aku balas hari ini. Syukurnya hidupku baik-baik saja, punya anak dan suami yang sangat kucintai. Mungkin itu yang kau ingin tau dari seorang Riana. Aku hanya menebak-nebak saja, atau mungkin aku salah karena hampir 7 tahun ini aku tak begitu mengenalimu lagi.

Silahkan add aku, maka aku akan mengconfirm request mu.

–Riana—

Email Riana begitu dingin. Tak seperti Riana yang dulu yang selalu romantis padaku. Bahkan aku hampir tak yakin jika email itu ditulis oleh seorang Riana. Dia memang sudah berubah bahkan sangat berubah. Tinggal aku sendiri dalam kebingunganku, dalam ketidakmampuanku. Tubuhku lemah bukan karena lelah dengan pekerjaan, tapi tubuhku lemah karena hatiku telah tak berdaya.

Dalam hidup ini tak selalu dan tak selamanya sesuai dengan harapan kita dan keinginan kita. Seberat apapun masalalumu biarkanlah itu berlalu, sekarang adalah ke depan selalu ada dan pasti bisa diawali dengan penuh kebaikan. Ku tarik nafas panjang lalu kuhembuskan perlahan, seperti menarik semua kenangan Riana di hatiku lalu melepaskannya dengan lembut dan perlahan biarkan hatiku melepaskannya dalam senyuman.

Penyesalan memang sering menjadi bagian dari kehidupan, namun dari itu semua aku mulai belajar tentang keikhlasan dan penyerahan diri. Riana adalah wanita yang hatiku mencintainya, entah sampai kapan dia menjadi wanita yang hatiku mencintainya, aku pun tak pernah tahu. sejenak aku berdoa semoga dia selalu berbahagia.

4 Komentar

  1. JimmyBean said,

    I don’t know If I said it already but …Great site…keep up the good work.🙂 I read a lot of blogs on a daily basis and for the most part, people lack substance but, I just wanted to make a quick comment to say I’m glad I found your blog. Thanks,🙂

    A definite great read..Jim Bean

  2. Sexygoodliving said,

    Kisah yang ditulis dengan bahasa yang hebat. Membuatku terharu.

  3. Diana Indriati said,

    Ceritanya aku kira mungkin setiap orang pernah mengalaminya….walaupun tidak persis sama, tapi
    mirip2 dikit pastilah😀

  4. Sexygoodliving said,

    Minta ijin mengkopi cerpen ini di blog saya untuk sementara menggantikan postingan yang terpaksa saya hapus karena sesuatu hal. http://sexygoodliving.blogspot.com/2009/11/ayang-ayang.html
    Jika tidak diijinkan tolong konfirmasi, saya akan menghapusnya lagi
    trimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: