Men forget but not forgive…and women forgive but not forget..

September 25, 2009 at 7:45 am (CERPEN)

Dari semua kejadian yang terjadi pada saya, saya berani menyimpulkan bahwa sesungguhnya wanita itu adalah makhluk yang lebih gampang trauma daripada laki-laki. Setidaknya untuk laki-laki yang saya kenal, baik dari kalangan saudara, teman, maupun musuh.

Beberapa hari yang lalu, saya mengadakan conference YM dengan ketiga sahabat saya, sahabat berendam di whirlpool Hotel Jayakarta Bandung: 2 orang lakilaki dan satu orang wanita. Ya…inilah geng olahraga saya waktu kuliah…Saya, Heidi, Jürgen, dan Bernd (ketigatiganya adalah nama samaran). Pembicaraan pun ngalor ngidul…dari mulai masalah-masalah yang menimpa saya…sampai akhirnya membicarakan kisah cinta kilat waktu kuliah….Anehnya Heidi mengingat semua detail percintaannya di masa itu…dari mulai cara jadian hingga sempat menangis karena ditembak oleh sahabatnya sendiri. Berbeda dengan Jürgen yang melupakan semua detail kejadian walaupun itu melibatkan dia sendiri…sampai akhirnya keluarlah katakata dari mulutnya…

“Wowww…that’s why Women forgive but not forget…and Men forget but not forgive…”

Analisa yang pertama kali muncul adalah perbandingan antara saya yang wanita dan adik saya yang laki-laki. Saya pernah cerita ke dia soal sebuah kejadian di rumah Kakek-Nenek saya di Dago 115. Di mana waktu itu, nenek saya berulang tahun. Kebetulan saya langsung meluncur dari kampus bersama pacar saya waktu itu. Lalu di tengah jalan, ternyata pacar saya menabrakan mobil saya ke sebuah angkot di Gandok (daerah kawasan di Ciumbuleuit sana), sehingga bemper mobil penyok dan berwarna kehijauan terkena cat angkot yang ditabraknya. Saya marah besar saat itu. Karena memang salah pacar saya, ajaibnya supir angkot tidak salah. Setelah tabrakan itu, kami tetap meluncur ke acara ulangtaun nenek saya di Dago. Tapi tentu saja dengan muka yang dilipatlipat karena bete dengan pacar saya yang menabrakan mobil.

Sesampainya di acara ulangtaun, ada semua keluarga lengkap…dan saya tentu saja yang datang dengan muka marah-marah dan pacar saya yang mukanya sangat innocent dan pendiam serta sabar. Lalu saya masih ingat dengan jelas bahwa saya saat itu ditegur oleh orangtua saya yang langsung membela pacar saya. Tidak ada yang percaya pada saya bahwa pacar saya itu salah dan berhak saya marahi. Malah saya yang kena pada saat itu…saya yang dimarahi, padahal…tidak ada yang tahu bagaimana kejadian tabrakannya dan betapa saya berhak marah pada pacar saya, karena memang dia salah! Adik saya ada pada saat itu dan dia juga tahu bagaimana saya dimarahi…dia ada di situ di tempat kejadian perkara… namun…he forgets! because he’s a man. And I am a woman and I remember every detail.

Dan itu adalah salah satu contoh kejadian yang saya ingat sampai detik ini, dan tentu saja masih ada kejadian-kejadian lain yang saya ingat. Saya ingat sedetail-detailnya…yang membuat saya menjadi merasa bahwa apapun yang menimpa saya, pasti saya yang akan disalahkan. Tidak akan ada orang yang di pihak saya. Makanya saya memilih untuk tidak menceritakan masalah saya kepada orang-orang…karena toh tidak akan ada orang yang dipihak saya…terutama masalah dengan pasangan saya…Ya…saya trauma…karena saya mengingat kejadian itu…walaupun saya sudah memaafkan semuanya…pacar saya, supir angkot dan semua pihak yang terlibat…tapi saya tidak bisa melupakan…and again… Women forgive but not forget….

Kejadian lain yang saya bandingkan tentang “Women forgive but not forget, and men are the opposite…he forgets but not forgive” adalah ketika laki-laki itu jarang sekali trauma terhadap sesuatu dan tidak sensitif sama sekali. Tapi…hati-hati…karena laki-laki memang tidak trauma secara kasat mata….tapi laki-laki itu ternyata memiliki bentuk trauma yang lebih berbahaya…Ini terkait juga dengan pola pikir laki-laki dan pola pikir wanita. Kami para wanita akan lebih berpikir secara kronologis dan mendetail. Sedangkan laki-laki tidak begitu kronologis dan tidak detail sama sekali. Laki-laki akan cenderung menyimpulkan berdasarkan logika, dan mencontoh sesuatu lebih kepada yang terlihat dan dia rasakan, sulit memilah dan mamisahkan mana yang baik dan mana yang buruk…petik yang baiknya dan singkirkan yang tidak baik. Dan tanpa sadar kadang laki-laki memiliki bentuk pelampiasan yang abstrak dan tidak kasat mata. Tapi sekali lagi…ini hanya terjadi pada laki-laki yang saya kenal..

Saya pernah mengenal laki-laki, sebut saja si A. Dia tumbuh menjadi orang yang sangat tidak banyak omong seperti saya dan juga sabar. Dan orangnya juga positif, dia jarang berprasangka buruk sama orang yang dia temui. Dia menolong saja pengemis atau siapalah yang membutuhkan tanpa ada rasa curiga dan pamrih…tanpa ada pemikiran detail seperti saya yang selalu takut kalau memberikan uang ke pengemis….uangnya dipakai untuk hal-hal bodoh…hal-hal tidak berguna…. pokoknya selalu berpikir panjang dan detail, takut uang yang diberi disalahgunakan. Nah, laki-laki ini tidak! Dia sangat positif! sepositif-positifnya! Tapi apa yang dilakukan lelaki pendiam ini pada istrinya? Ternyata dibalik ke pendiamannya dan kepositifannya itu, dia menyimpan dan merekam sesuatu yang buruk dalam jiwanya. Dia diam, karena alasan malas berargumen, dan menghindari konflik. Tapi itu membuat istrinya selalu merasa berbicara kepada tembok. Setiap ada masalah, setiap ada konflik, setiap ada argumen, tidak pernah bisa diselesaikan…karena apa…si A selalu diam diam diam diam dan diam tidak mengatakan apapun. Tidak bisa berkomunikasi. Dengan alasan apa? Dengan alasan bahwa di rumahnya tidak pernah ada yang berkomunikasi…ibu dan ayahnya tidak pernah berbicara…dia juga tidak pernah berbicara dengan saudara kandungnya sendiri…semua sendiri-sendiri…dan semua hanya diam…menyimpan semua dalam hati…jadi dia tidak pernah diajarkan untuk bicara dan berargumen. Di rumahnya dia selalu dipaksa untuk bilang iya dan iya….sehingga dia tidak pernah bilang tidak. Dia selalu menghindari konflik…menghindari masalah…sehingga selalu berbohong pada dirinya….pada istrinya…pada siapa saja…dan selalu diam…menghindari masalah…dan lagi lagi…karena dia laki laki…dia melupakan masalahnya…sehingga masalah dibiarkan menggantung istrinya pun menderita…lagi-lagi sebetulnya si A ini melupakan semua kejadian yang menimpa dirinya…dia sebetulnya tidak ingat semua detailnya, tapi dia tidak memaafkan bagaimana keadaan di rumahnya membuat dia menjadi pendiam…dan menyimpan segudang masalah berkomunikasi…sehingga setiap istrinya ingin dia bertindak sebagai kepala keluarga, lagilagi dia memiliki alasan…

” aku tidak pernah berkomunikasi di keluarga, dan aku memang begini orangnya, aku malas berargumen dan takut salah…karena setiap aku berargumen aku malah dimarahi…dan aku selalu salah…makanya aku memilih selalu berbohong dan berkata iya iya saja tanpa melakukan apapun karena aku menghindari konflik”

Laki-laki ini tidak bisa memaafkan semua kejadian yang ada di dalam hidupnya, walaupun pada dasarnya dia tidak mengingat semuanya….tapi yang dia rekam bukan yang baiknya, melainkan yang buruknya…dia tidak berpikir detail, sehingga dia sudah melupakan, tapi belum memaafkan…

….and again…Men forget but not forgive…

Wanita lain yang saya kenal, mengeluhkan nasib pernikahannya dengan seorang pria baik-baik. Loh kenapa megeluhkan itu? bukankah harusnya bersyukur mendapatkan pria baik-baik? Iya…tapi dengan mendapatkan pria baik-baik yang tidak terjerat narkoba dan tidak bermain perempuan apalagi menenggak minuman keras…ternyata lebih susah untuk bersikap tegas dan meninggalkannya di saat lelaki ini merusak dan menggerogoti jiwa dan hatinya sampai bolong-bolong dan keropos.

Sebut saja lelaki ini lelaki B, lagi-lagi lelaki sabar dan pendiam, yang sangat lurus jalan hidupnya, tanpa narkoba dan minuman keras…sepanjang hidupnya dihabiskan untuk mengamalkan kebajikan bagi orang-orang yang membutuhkan…hmmmhhh semua orang pun berkata kepada sahabat saya itu…”hey…kamu beruntung ya mendapatkan lelaki seperti dia…ga ada kekurangannya”

Nah inilah yang sekarang menimpa sahabat saya itu. Dia telah menikah selama hampir dua tahun dengan B. dan tidak ada yang tahu bahwa sahabat saya itu, sebut saja Jessica…tidak pernah dinafkahi lahir dan bathin. Dengan sejuta alasan yang B punya…Jessica tidak pernah digauli oleh B. Dan B juga belum bekerja…jadi mana bisa menghidupi Jessica. Dan kini Jessica pun merasa menjadi orang yang paling jelek dan tidak berguna sedunia. Betapa tidak, suaminya yang dipuja-puji banyak orang soal kesabaran dan kebaikannya dan segala amal perbuatannya, ga napsu sama sekali melihat Jessica. Intinya, Jessica disia-siakan dan tidak digubris keberadaannya. Dan setiap kali Jessica berusaha membicarakan permasalahannya dengan B, selalu B berdalih. Bahwa dia berusaha membuat Jessica bahagia dengan caranya sendiri. Tapi…tidak dengan cara Jessica. Jadi menurutnya, bergaul dengan intim pada kehidupan rumahtangga itu tidak penting. Juga menafkahi secara materi juga tidak perlu. Ada cara sendiri yang membuat rumahtangga berjalan. Dan entah apa itu… tapi menurut B, dia berusaha membuat Jessica bahagia. Namun bahagia dengan cara apa tidak tahu. B selalu bilang…bahwa dia tidak rela Jessica dimiliki oleh orang lain, atas dasar itu semata alasan mengapa B menikahi Jessica. Lagian, B juga punya alasan…bahwa di sekelilingnya…yang penting itu adalah status suami istri dalam berumahtangga…aku istri kamu…kamu suami aku…begitu! Mau pisah rumah…Pisah ranjang…ga pernah ketemu…ga pernah dinafkahi…itu ga penting…yang penting adalah memiliki status suami dan istri…

Seringkali jessica menangis dan menangis…karena dia tidak bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk meninggalkan B, karena B itu bukan lelaki brengsek, tidak pernah selingkuh, tidak terlibat narkoba, apalagi menenggak minuman keras. Lebih gampang untuk meninggalkan lelaki brengsek, daripada meninggalkan lelaki sabar, pendiam, dan beramal saleh. Dan lagi-lagi lelaki B memiliki alasan untuk berbuat apa yang dia perbuat pada Jessica. B telah melupakan semua kejadian yang menimpanya, dia tidak ingat dengan detail siapa yang melakukan apa dalam hidupnya. Tapi dia tidak bisa memaafkan kejadian-kejadian tersebut dalam hidupnya, sehingga dia melampiaskannya pada Jessica, dengan selalu berkata:

“aku begini karena aku tidak punya contoh bapak dan suami yang baik. Yang aku tau yang baik ya seperti yang aku lihat di sekelilingku…selama dia bisa berbuat baik dan beramal soleh kepada orang lain, maka tidak apa-apa dia menelantarkan keluarga dekatnya” dan jadilah dia menelantarkan Jessica…and again…Jessica as a woman…she forgives B, but she never will forget that B has hurted her. She’ll never trust a man…never again…tuh kan…lagi lagi wanita trauma…sedangkan B? dia sudah lupa semuanya kok… because Men forget, but not forgive…

OK…OK…I know…tulisan ini sudah terlalu panjang… saya berjanji hanya akan memberikan satu buah contoh lagi…and then I’m done!

Seorang teman wanita saya, sebut saja Jennifer…dia pun sangat menyedihkan kisah hidupnya sebagai korban dari kejahatan ‘not forgive’ dari suaminya sendiri. Sebut saja suaminya ini si C. Jennifer menikah dengan C dengan sebuah pikiran positif bahwa dia sudah mengenal suaminya luar dan dalam. Yaiyalah…mereka bersama-sama selama kurang lebih lima setengah tahun lamanya. Gak kurang lama apa? Dan Jennifer juga sudah menge-set pikiran positif dari buku bacaan yang sudah dibacanya: the Secret, the law of attraction, dan juga Quantum Ikhlas. Bahwa dia yang menciptakan kebahagiaan sendiri…kebahagiaan itu dicari oleh dia pribadi…kebahagiaan itu diciptakan oleh individu tersebut sendiri. Ya…Jennifer yang saya kenal memang orang yang sangat berkarakter dan berpikiran sangat positif terhadap sesuatu. Bahkan dia sering menjadi penasihat dari seorang sahabatnya yang lain yang waktu itu berpacaran dengan seorang pemain band terkenal. Yang sering menangis karena perlakuan laki-laki pemain band terkenal tersebut. Namun ternyata sekarang Jennifer berubah 100 %, lagi-lagi karena trauma hidupnya…hihi…kasian deh para wanita yang memiliki kecenderungan untuk trauma…

Siapa yang menyangka bahwa C ternyata memiliki perilaku seksual aneh. Intinya, perilaku seksual tersebut tidak seperti perilaku-perilaku seksual yang dia kenal melalui film-film jorok yang dia pernah tonton secara sengaja maupun tidak sengaja di TV atau DVD. Hmmmhhh, mungkin ini juga yang perlu diwaspadai teman-teman yang belum menikah, bahwa pernikahan itu seperti membeli kucing dalam karung. Terutama untuk wanita-wanita yang berprinsip untuk tidak berhubungan seksual sampai menikah…(hei ini bukan berarti menyarankan untuk berhubungan seksual sebelum nikah ya…sama sekali TIDAK!) saya hanya murni menceritakan yang terjadi pada Jennifer teman saya, dalam konteks “men forget, and women forgive”.

Jennifer telah mencoba segenap dan sekuat tenaga untuk mencoba memperbaiki perilaku seksual C, atas dasar cinta….dan demi mewujudkan semua yang dia tulis di halaman 92 buku ‘Law of attraction’ karangan Michael J. Losier. Di situ terdapat ‘Lembar Kerja Pernyataan Hasrat Masa Depan Ideal’. Dan Jennifer telah menuliskan hal ini sebelum dia menikah dengan C, sekitar tahun 2007:

“Saya sedang dalam proses mendatangkan segala sesuatu yang perlu saya lakukan , ketahui, atau miliki untuk mendatangkan hasrat ideal saya. Saya telah memutuskan untuk menjadi pasangan hidup dari seorang lelaki berhati emas bernama C. Saya menjadi bersemangat jika membayangkan sebentar lagi kita akan memulai kehidupan baru di negara lain segera setelah visa kami selesai. Saya suka membayangkan bahwa ditengah-tengah kami akan hadir keturunan-keturunan kami yang lucu dan sehat. Saya merasa sangat senang membayangkan di negara baru nanti saya dan suami serta anak-anak diberi kecukupan rezeki dan karier yang baik. Apalagi jika saya berkesempatan bermusik dan menjadi the next big thing di sana, maupun setelah kembali ke Indonesia. Akan semakin banyak lagi kesuksesan menyertai saya sekarang dan tahun berikutnya. Saya yakin Tuhan pasti mewujudkan segala keinginan saya. Amien”

Begitulah yang ditulis Jennifer, wanita yang saya kenal pada waktu itu sangat positif dan memiliki motivasi tinggi dalam mengejar impiannya. Tapi lihatlah dia kini, rapuh dimakan stress dan problema. Tidak ada Jennifer yang positif dan bermotivasi tinggi…yang ada hanya Jennifer yang kecewa. Kecewa dengan keadaan, dan tidak percaya lagi bahwa ada harapan. Dia trauma berharap…trauma memiliki impian…trauma memiliki tujuan. Semua hancur begitu saja ketika memutuskan untuk menikah dengan C.

C memang tidak macam-macam selama berpacaran, menghormati Jennifer. Sehingga Jennifer pun berpikir, bahwa setelah menikah nanti…pasti akan ada sebuah keindahan dari norma-norma hubungan seksual yang selalu dia jaga. Pasti akan indah kehidupan seksual dia dan suaminya…seperti yang dialami teman2 wanitanya yang sudah menikah…dan merasakan kenikmatan lahir bathin dari kehidupan barunya setelah menikah: berhubungan intim…namun, ternyata Jennifer tidak pernah merasakannya…

C dan perilaku seksual menyimpangnya yang menyakiti Jennifer lahir dan bathin. Namun setiap mencoba dikomunikasikan, C menutup diri dan tidak mencarikan solusi bersama. Jennifer berjuang dan berusaha sendirian mempertahankan segalanya sampai mencapai titik lelah. Entah apa yang ada di benak C, Jennifer pun bingung karena C enggan berkomunikasi atas apa yang menimpanya. Belum lagi Jennifer juga harus menerima kisah lain dari orangtua C yang bersikap sangat acuh tak acuh terhadap dirinya. Dia merasa sangat tidak disukai oleh mertuanya. Apapun yang dia usahakan untuk mengambil hati mertuanya tidak pernah berhasil. Cuek, cuek dan cuek…Jennifer berusaha dekat namun tetap tidak bisa. Bahkan setiap dia mengkomunikasikan dengan C, C selalu bilang…jangan berharap untuk bisa dekat dengan orangtuanya….karena C saja sama sekali tidak dekat. C sendiri pernah bilang bahwa dia tidak ernah curhat, berkeluh kesah, cerita, dan lain sebagainya kepada orangtuanya. Jadi berharap menjadi dekat dengan orangtua C bagi Jennifer adalah seperti pungguk merindukan bulan…sesuatu yang tidak mungkin…atau seperti mencari jarum di tumpukan jerami…sesuatu yang sangat sulit. Padahal Jennifer ingin sekali mengobati perilaku C, berdiskusi…apa yang membuat C memiliki perilaku menyimpang ini, dan apa yang bisa dilakukan untuk meluruskan yang sudah menyimpang tersebut…tapi nihil…dan Jennifer pun tidak punya pilihan lain untuk bersabar dan bersabar menjalani sakit lahir bathin yang diterimanya…karena Jennifer merasa menikah dengan C adalah pilihannya, dan perilaku seksual menyimpang C sebagai salah satu konsekuensi yang harus dijalani. Karena setiap pilihan ada konsekuensinya, dan harus bertanggung jawab penuh dengan apapun yang terjadi…karena Jennifer sudah dewasa! Harus bertanggung jawab penuh terhadap apa yang sudah dia pilih! Bukan orangtuanya lagi yang bertanggung jawab! Harus sudah bisa bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

C tidak ingat apa yang membuatnya menjadi seperti ini, yang jelas dia tidak memaafkan apa yang terjadi pada dia. Tidak tahu. Tidak jelas sama sekali, apa yang membuat dia begitu! Dia membenci sesuatu, tidak memaafkan seseorang atau sesuatu…dan kambali, lahirlah pelampiasan…dan Jenniferlah pelampiasannya. Namun lagi-lagi…C adalah seorang pria yang mudah melupakan…tapi sulit memaafkan. Dan dia mungkin juga sudah lupa bahwa Jennifer pernah mencoba bunuh diri untuk membuat C menggubris keberadaan Jennifer.

Sebagai wanita yang lemah, Jennifer cuma bisa berharap bahwa C akan berubah dan sadar bahwa perilaku menyimpang dia sangat menyakitkan. Jennifer lelah berusaha sendirian sehingga dia bingung untuk apalagi hidup jika memang bertakdir untuk disakiti belaka. C tidak melakukan apapun dan sudah berstatement bahwa itulah dia dan tidak bisa diubah. Dia tidak mau berubah.

Jennifer telah memaafkan C, namun tidak bisa melupakannya. Dia ingat setiap detail peristiwa yang dilakukan C terhadapnya. Dia menjadi frigid, karena menurutnya berhubungan seksual itu tidak ada nikmat-nikmatnya, cuma sakit….dan sakit….lahir dan bathin, dan takdirnya hidup dengan C…jadi dia tidak pernah lagi mau berhubungan seksual dengan C, tapi karena C lelaki yang baik dan pengertian, juga tidak pernah meminta untuk berhubungan seksual. Jadilah hubungan mereka seperti pertemanan biasa saja, namun tentusaja masih dengan status suami istri tentunya…dan pupuslah mimpi2 dan harapan ideal dia untuk masa depannya untuk memiliki keturunan-keturunan yang lucu dan sehat seperti yang pernah dia tulis dahulu.

And again…men forget but not forgive…and women forgive but not forget..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: