Rasa Ini Hanya aku yang tahu

November 2, 2009 at 7:02 am (CERPEN)

Awal aku mencintainya, Aku hanya merasa yakin bahwa dia adalah pilihanku, Banyaknya rintangan yang ku hadapi tak membuatku patah semangat tuk tetap mempertahankan cintaku..memang aku sempat ragu,ragu bukan karena dia seorang single parents..bagiku tidaklah penting aku menikah dengan seorang gadis atau janda,tp yg terpenting bagaimana dia bisa menerima keadaanku apa adanya. Hanya saja saat itu aku merasa tidak yakin dengan masa depanku sendiri, Maklumlah aku hanya seorang pengangguran ” Percayalah padaku,kelak kita menikah nanti,pasti tuhan akan mempersatukan rejeki kita, aku,kamu dan juga anakku..” begitulah cara dia meyakinkan keadaanku agar aku dapat menikahinya..!! aku sadar,aku menikah kelak dengan siapa, dan calon istriku ini adalah seorang anak kaya yg cukup terpandang di tempat tinggalnya,hanya saja aku melihat ada kesederhanaan di dalam dirinya meskipun dia seorang anak yang sangat kaya…

Dari awal aku berpacaran dengannya..aku sungguh2 tulus mencintainya,bahkan anak yang terlahir darinya telah ku anggap bagaikan darah dagingku sendiri,aku berfikir semoga kegagalan dia di dalam pernikahan yg pertama membuatnya lebih menghargai makna hidup. Belum lagi aku harus menghadapi sikap keras calon ayah mertuaku yang menuntut banyak dariku agar pernikahanku dengan anaknya jangan sampai terlalu sederhana ” Tidaklah penting arti sebuah pesta dari pernikahan pak, untuk apa saya menghabiskan uang puluhan juta kalau ternyata di tengah jalan,perkawinan saya dengan putri bapak kandas begitu saja, Hanya inilah yg bisa saya berikan,yg terpenting semoga saya dapat menjadi imam yang baik kelak di dalam rumah tangga saya ” begitulah cara yang aku lakukan tuk dapat meyakinkan calon ayah mertuaku. Aku melakukan ini semua karena aku yakin dan percaya kalau calon istriku pada saat itu sungguh2 akan menerima segala kekuranganku..

Waktupun berlalu, dan aku dapat meyakinkan semua pihak, baik dari keluarganya maupun keluargaku, aku yakin dan percaya apa yang telah ku pilih adalah tepat, sebulan lamanya setelah menikah aku masih tetap menganggur, Sedikit terbebani memang tapi istriku terus memberikan aku support agar aku tak pernah putus asa, Tidak lama kemudian doaku pun terkabul, Aku mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih dari cukup, lalu aku membawa anak dan istriku tuk mengontrak dan akupun ingin menunjukkan kepada orangtua dan mertua bahwa apa yang aku ucapkan dulu di awal aku mau menikah dengan istriku dapat ku buktikan bahwa aku harus bisa menjadi imam yang baik di dalam rumah tanggaku. Tahun demi tahunpun berganti tiba2 saja perusahaan tempatku bekerja harus gulung tikar begitu saja..pening di kepalaku pun mulai terasa, hanya satu yang ku fikirkan ” apa yang harus ku lakukan tuk mempertahankan rumah tanggaku,membayar uang sewa kontrakan rumahku..tiba2 saja sesaat aku merasakan sesak di nafasku..” Tak ada jalan lain,kita harus kembali kerumah orangtuaku..biarlah mereka mau berkata apa, cepat atau lambat aku percaya orangtuaku pun akan mengerti dengan keadaan yang terjadi di dalam rumah tangga kita ” begitulah lagi2 istriku memberi keyakinan padaku, walau ada keraguaan di hatiku..tp memang ku harus mengakui itulah jalan satu2nya yg memang terbaik tuk rumah tanggaku. Aku tidak diam begitu saja,kebetulan semasa aku kerja dulu aku bisa kredit motor, kini motor itu aku pakai tuk ngojek,aku tak merasa malu walau ku tahu istriku pasti merasakannya..” hari ini kenapa yah kok rasanya aku berat mau keluar ” begitu ucapanku pada istriku ketika aku harus ngojek tuk mencari nafkah ” ah,mungkin perasaan kamu aja mas,udah sana jalan walau sekarang kita tinggal bersama orangtuaku bukan berarti kamu berpangku tangan begitu sajakan..

“” Buk..buk..tiba2 saja aku merasakan pukulan benda keras di kepalaku, Akupun terjatuh dan aku sadar bahwa diriku dalam bahaya yang cukup besar, ya aku sadar kalau saat ini motorku tengah di rampok dengan orang yang tadi jadi penumpangku..ada sedikit kekuatan aku bangun aku mencoba mempertahankan hartaku..tapi lagi2 Buk..Buk..balok panjang itu menghantam tengkuk leherku, akupun tersungkur jatuh tak sadarkan diri..hanya saja telingaku masih dapat mendengar laju cepat motor yg di bawa oleh sang pelaku, tak ada yg menolongku..memang tempat kejadian perkara yang ku alami sangat terkenal sepinya,dan aku tidak tahu akan hal itu,karena aku memang orang baru bahkan seumur hidupku pun aku baru kali ini ngojek..entah bagaiman caranya,ketika ku sadar aku sudah berada di rumah,ku lihat istriku menangis meraung2 sambil mengompres luka memarku..dalam hati ku berkata ” maafkan aku istriku,hingga kini aku tak bisa membuatmu bahagia..”

setelah kejadian itu akupun tak punya apa2 lagi,lamaran yang ku masukkan keperusahaan tak jua memberiku harapan, lalu aku memutuskan tuk ikut pamanku narik angkutan umum. dengan segala kesabaran yang di miliki istriku dia selalu memberikan semangat apapun yang aku lakukan, walau aku hanya sekedar mampu memberinya uang belanja yang sungguh miris tapi istriku menerimanya dengan lapang dada. Mungkin dulu ucapanku salah terhadap mertuaku, aku merasa yakin kalau aku akan menjadi seorang suami yg baik bagi putrinya,tanpa aku sadari gimana aku mau menjadikan rumah tanggaku baik kl pondasi yg akan ku bangun belum aku persiapkan..yakni pekerjaan,kemapananku secara finansial,pada akhirnya mertuaku jugalah yg banyak menunjang ekonomi rumah tanggakulagi dan lagi tahunpun terus berganti, bahkan hingga istriku melahirkan anak dariku aku belum juga mendapatkan pekerjaan yang layak, lama2 aku merasa minder,belum lagi di saat aku harus berkumpul dengan keluarga besar dari istriku, sepupu2 istriku terlihat dia hidup sukses tapi istriku..bahkan sekedar pakaianpun aku tak mampu tuk membelinya ” enak ya mas sekarang sekar,vita,riri,difa..kemana mana bawa mobil bagus,bajunyapun bagus2,sedangkan aku..” istriku tak melanjutkan kalimatnya, Namun aku mengerti apa maksudnya dan akupun tak dapat berkata apa2,diam dalam fikiranku membuatku jauh lebih baik..”

Tuhan kenapa rasanya niat baik saja tak cukup, dari awal aku ingin menikahi istriku, aku hanya ingin membuatnya bahagia..” begitulah sesekali batinku menjerit. ” apa kamu narik dari pagi hingga malam dapat uang hanya segini..?? ” ” Mas kamu jangan mentang2 tinggal sama orangtuaku lalu kamu menafkahiku seenaknya saja ya..walau aku dan anak2 mu makan dari orang tuaku tapi setidaknya kebutuhan ku dan anak2 mu itu kamu yg bertanggung jawab..” begitu suara nyaring yg keluar dr bibir istriku tuk yg pertama kali,aku bisa mengerti jika istriku mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan diriku..dan lama2 akupun semakin terpuruk,beban mentalku jatuh walau aku masih mau berusaha tapi entah kenapa aku merasa malu, malu dengan diriku sendiri, ,malu dengan kesabaran istriku, malu dengan mertuaku yang telah banyak membantu finansial keluarga. Bayangkan 9 tahun perkawinanku, tak sedikitpun aku dapat membuat istri dan anak2 ku tersenyum apalagi bangga terhadapku, dan kali ini batas kesabaranku di titik yang paling terendah,badanku yang memang kurus semakin kurus..entah kenapa dari aku masih bujang dulu hingga kini aku menikah, aku termasuk orang yang kurang hoky di dalam pekerjaan, padahal aku tak bodoh, bahkan ketika sekolah dulu aku selalu bersaing dengan teman sebangku ku tuk merebutkan juara kelas. “

De,.. aku ingin menghadap bapak siang ini..” begitu aku berucap kepada istriku yang saat itu sedang menyuapi anak kami ” untuk apa mas..? mas mau pinjem modal buat usaha sama bapak..? begitu istriku menebak maksudku..” Oh bukan de, ada suatu hal saja yang ingin aku utarain ke bapak..nanti siang kamu mau ya nemenin aku tuk nemuin bapak..” lalu aku pergi mandi dan sekilas aku melihat senyum manis yang keluar dari bibir istriku yang memang juga manis. ” pak kalau ada waktu aku ingin berbincang sebentar sama bapak dan juga ibu ” begitu aku berujar ketika aku melihat bapak dan ibu mertuaku sedang bersantai sambil menikmati secangkir kopi hangat, Tak lama kemudian istrikupun datang,dia habis mandi terlihat segar dan sangat ayu sekali ” ya silahkan duduk ada apa ” begitu jawab bapak mertuaku ringkas. Sunyi seketika, lagi2 ku memandang istri yang teramat sangat ku cintai, Lagi2 dia tersenyum kepadaku seolah2 dia sudah tak sabar apa yang ingin ku sampaikan terhadap bapaknya..” Sebelumnya saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu karena telah menerima saya sebagai menantu dengan segala kekurangan yang saya miliki, Meski bapak cukup terpandang di sini, bapak tidak malu apalagi marah ketika saya harus ngojek dan narik angkot, dari awal saya ingin menikahi nunik saya sungguh2 punya niat baik tuk membuat nunik bahagia, Tapi entah kenapa hingga kini saya masih belum di berikan jalan, bahkan segala kebutuhan rumah tangga saya bapak dan ibu yg lebih banyak memenuhi keperluan kami, Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada bapak juga ibu..sungguh kali ini saya sudah tidak sanggup lagi menafkahi nunik dan juga anak2, maka saya hanya berniat baik tuk pulangkan nunik ke bapak juga ibu..”

Hening sunyi sepi ” Kamu sadar apa yang kamu ucapkan..? tanya bapak mertuaku, Aku hanya terdiam diam dalam kesadaranku ” seribu kali istri meminta cerai kepada suami maka seribu kali pun perceraian itu tak’kan bisa terjadi, tetapi kl seorang suami berkata ” cerai ” maka mutlaklah keputusan itu, apalagi seorang suami dengan jantan dan lantangnya berkata itu di depan bapak dan ibu dari wanita yang dinikahinya..”  Begitu tegas suara bapak mertuaku terdengar. Hening kembali..tiba2 terdengar suara isak tangis istriku..Tubuhkupun merasa lunglai, aku sadar apa yang telah ku perbuat begitu menyakitkan, menyakitkan istriku,bapak dan ibu mertuaku, bahkan aku sendiri..tetapi entah kenapa aku merasa harus melakukan ini, aku hanya tak ingin melihat istriku menangis di tengah malam karena keadaanku, aku tak ingin melihat istriku minder di saat ia berkumpul dengan teman2nya atau sepupu2nya, aku tak ingin melihat istriku terdiam karena sesungguhnya ia ingin marah2 kepadaku sekedar meluapkan sesak di dadanya..dan aku tahu apa yang istriku lakukan hanyalah untuk membuatku tenang, tapi sesungguhnya rasa ini hanya aku yang tahu…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: