Mengapa Aku Belum Menikah?

November 3, 2009 at 6:21 am (RENUNGAN)

“Mengapa Aku Belum Menikah?” Pertanyaan itu timbul dalam benakku dan juga dalam benak para perempuan lainnya. Ada yang berumur 35, 30, 27 atau bahkan seusiaku, 25 tahun. Konon katanya usia yang sudah sepatutnya menggendong  anak. Tapi kalau kata temanku, usia siaga 1… hehehe (maklum perempuan, masalah usia cukup sensitif)

“Tidakkah aku ingin menikah?” “Ingin,” jawabku dan jawaban semua perempuan lainnya dalam hati mereka. Getir rasanya. “Lalu, kenapa aku belum menikah?” Simpel jawabannya. “Belum ada jodoh.” Di balik kalimat “belum ada jodoh” tersimpan berbagai rupa, kejadian, alasan yang semata bukan karena tak ingin.

“Apakah aku menunda menikah?”. Hmm, tidak. Sekali lagi belum ada jodoh. Seseorang akan dengan bijak berkata, “Aku tak ingin menunda, tapi pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan tak main-main. Aku tak pilih-pilih. Aku selalu berharap yang terbaik dari-Nya”

*********

Bicara lagi soal nikah. Topik yang nggak pernah habis seperti halnya cinta. Seru, ramai. Tapi justru “membosankan”. Itu adalah pemikiranku belakangan ini. “Duh, pasti ngomongin jodoh, cape, deh” ujarku saat itu. Entah kenapa rasanya malas sekali. Rasanya sebagai perempuan yang berusia cukup matang menikah, bicara jodoh kadang lebih menyakitkan hati dibanding menyenangkan. Jadi, kalau ada milis, atau seminar bicara jodoh, aku lebih memilih untuk tak ikut-ikutan. Hehehe, capek.

“Kenapa musti capek?” Yah, aku capek karena aku selalu di-judge, “Kenapa aku belum menikah?” “Ga usaha, ya?” “Jodoh itu musti dicari, musti usaha”. Insya Allah, aku sudah berusaha dan mencari. Teman-temanku juga tentunya begitu. Sudah tak kurang usaha mereka hingga taaruf berkali-kali.

“Jodoh itu ga usah pilih-pilih”. “Kami tak pernah memilih, kami hanya jalani proses yang harus kami jalani, walau kadang ada keputusan sepihak.” Atau jawaban paling miris sekalipun. “Apa yang mau dipilih, para ikhwan yang terlalu banyak memilih” dan kalaupun seorang perempuan atau akhwat memilih itu juga insya Allah untuk kebaikan.

“Jodoh itu dekat, lho” ujar temanku yang lain lagi ngomporin aku karena aku belum juga menikah. Penasaran amat sih nih orang. “Ya sedekat apa?” “Di mana?” “Bagaimana?” Berapa kilometer kami harus berjalan untuk menemukan jodoh kami.

Atau beberapa waktu lalu seorang adik kelas menanyakan aku dengan polosnya “Kenapa belum menikah?” “Duh, mbak sibuk, sih” He? Aku melongo. Sibuk? Sesibuk apa aku hingga tak sempat memikirkan jodoh? Aku bukan presiden, menteri, atau gubernur. Aku juga bukan karywan kantor atau apalah… aku hanya  freelancer yang bisa mengatur waktu  dengan sesukaku hingga aku mencoba mengambil berbagai kegiatan di luar pekerjaan. Fiyuh… aku hanya menjawab, “Insya Allah udah usaha, dan belum jodoh” itu jawabanku di tengah kekekesalanku ingin menjwab dengan “Woy, anak kecil dirimu sotoy sekali… sotoy ayam, sotoy kambing… ;p”

Hmm… kadang aku berpikir. Di saat usia muda ghiroh untuk menikah sangatlah tinggi karena aku sadar betul aku ga mau pacaran. Menginjak usia 19 tahun, di kampus aku sudah disuguhi seminar nikah dini, antara masalah dan solusi… rasanya sangat ingin menikah, tapi jodoh belum datang. Yah, sudah bukan masalah, lagian masih muda usia. Menjalani kuliah dan hingga bekerja, topik  menikah menjadi hal yang sering dibicarakan. Rasanya seru dan ramai. Saat itu usia masih 21-23 tahun. Jodoh pun tak kunjung datang. Ingat  bukan karena tak usaha! Menginjak 24 tahun dan hampir 25 tahun, aku sudah cukup gerah dan lelah. Mungkin teman-temanku yang jauh lebih tua dari aku merasakan hal yang sama. Bosan dengan pertanyaan: “Kenapa belum menikah?” “belum ada jodoh” Insya Allah, usaha tak kurang juga dan tentunya doa.

Dari mulai taaruf lewat guru ngaji, lewat teman, Dijodohin sama teman dan tetangga. Tak ada yang berjodoh. Lalu? Salahkah aku belum menikah? Ada malah yang sampai lelah berkali-kali taaruf tidak juga menemukan jodoh. Di sini tidak ada kata pilih pilih. Di sini kami hanya pasrah.

Usia temanku sudah 27 tahun saat itu, wajahnya cantik dan tak kurang suatu apapun. Dia belum menikah. Dia sudah berusaha hingga dia sudah pernah merasakan diduakan saat taaruf oleh seorang ikhwan dan akhirnya ditinggal menikah. Cerita temanku lain lagi, dia sudah menunggu ikwan tersebut, tapi akhirnya ditinggal menikah oleh orang lain tanpa kabar yang jelas. Atau cerita miris lainnya. Maaf, di sini aku bukan ingin menyalahkan para ikhwan, tapi itu hanya salah satu contoh kenapa para perempuan atau akhwat belum juga menikah.

Sekali lagi. Kami bukan tak berusaha, kami bukannya pilih-pilih, kami bukannya tidak tahu diri. Kami sadar usia kami sudah lebih dari usia ideal. Lho, siapa yang mengukur usia ideal menikah? Fiyuh, jadi ingat postingan belum lama ini (baca: (pencerahan) Ayo Nikah…!). Usia 24 + dianggap “usia lanjut” untuk menikah. Oh, ya? Lalu salahkah kalau di usia lanjut itu siapapun, terutama perempuan—karena aku mewakili perempuan—belum juga menikah?

4 Komentar

  1. nia said,

    yeah, qta para wanita/akhwat hanya tinggal menunggu. Di dlm hati ingin mengikuti jejak ibunda khadijah ttapi ketakutan di tolah mengalahkan keinginan itu…

  2. noni said,

    hik…hik..hik……aku tau gimna rasanya….

  3. rhe said,

    sama..

  4. roro said,

    Iya saya ingin sekali menikah, usia saya 26 .. Saya sudah berusaha, dari minta bantuan teman dicarikan jodoh sampai saya duluan yang menyatakan perasaan … Tp memang belum jodoh sampai skg saya masih sendiri,,, lelah? Ya sangat lelah apalagi keluarga terus mendesak, lantas saya harus bagaimana lagi???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: